Oleh : ERFANDI
A. PENGERTIAN
· Peran serta masyarakat adalah suatu bentuk bantuan masyarakat dalam hal pelaksanaan upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitattif dalam bentuk bantuan tenaga, dana, sarana, prasarana serta bantuan moralitas sehingga tercapai tingkat kesehatan yang optimal.
· Peran serta masyarakat adalah proses untuk :
1. menumbuhkan dan meningkatkan tanggung jawab individu, keluarga terhadap kesehatan / kesejahteraan dirinya, keluarganya dan masyarakat
2. mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan kesehatan, sehingga individu / keluarga tumbuh menjadi perintis pembangunan (agent of development) yang dilandasi semangat gotong royong.
B. TUJUAN
- Tujuan Umum
Meningkatnya jumlah dan mutu upaya masyarakat dalam bidang kesehatan
- Tujuan Khusus
a. meningkatnya kemampuan pemimpin, pemuda, dan tokoh masyarakat dalam merintis dan menggerakkan upaya kesehatan di masyarakat
b. meningkatnya kemampuan organisasi masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan
c. meningkatnya kemampuan masyarakat dan organisasi masyarakat dalam menggali, menghimpun dan mengelola dana / sarana masyarakat untuk upaya kesehatan
C. SASARAN
- Tokoh masyarakat (tokoh formal, tokoh adat, tokoh agama dan sebagainya)
- Keluarga dan dasa wisma (persepuluhan keluarga)
- Kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus kesehatan (generasi muda, wanita, angkatan kerja dan lain-lain)
- Organisasi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menyelenggarakan upaya kesehatan, antara lain : organisasi profesi, pengobatan tradisional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sebagainya
- Masyarakat umum di desa, di kota dan di pemukiman khusus (tarnsmigran dan sebagainya)
D. KEBIJAKSANAAN POKOK DAN STRATEGI PENINGKATAN PSM
1. Kebijaksanaan pokok
a. Dilakukan melalui berbagai jalur :
mengutamakan organisasi kemasyarakatan yang ada
menerapkan teknologi komunikasi, informasi, motivasi (KIM)
b. Pembentukan dan pembinaan kepemimpinan yang berorientasi kesehatan terhadap pemimpin/pemuda/tokoh dalam organisasi kemasyarakatan.
c. Pemberian kemampuan, kekuatan dan kesempatan yang lebih banyak kepada organisasi kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan dengan mendaya gunakan sumberdaya masyarakat sendiri
d. Peningkatan para penyelenggara upaya kesehatan dalam menerapkan (KIM) dan menggalang (PSM) untuk pembangunan kesehatan
2. Strategi Peningkatan PSM
a. mematangkan kesiapan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan dengan menerapkan Komunikasi Informasi dan Motivasi (KIM) dalam rangka menumbuhkan “public opinion” yang positif yang dilakukan melalui pendekatan kepada :
- individu
- keluarga (diberikan dengan pendekatan perorangan)
- kelompok persepuluhan
- organisasi / kelembagaan masyarakat, dan
- masyarakat umum (dilakukan melalui penggunaan media elektronik, media cetak dan tradisional)
b. mewujudkan pemimpin dan perintis pembangunan kesehatan dalam masyarakat dengan pendekatan :
- formal : melalui LKMD / PKK dan perangkatnya
- informal : melalui organisasi kemasyarakatan
- kelompok masyarakat : (organisasi / kelompok keagamaan, kewanitaan, kepemudaan, ketenaga kerjaan, ekonomi, pendidikan, peminatan, profesi)
c. mengenal, mengajak, memberi kesempatan dan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan kesehatan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya di semua tingkat
d. menyelenggarakan pendidikan dan latihan kelanjutan bagi para penyelenggara upaya kesehatan guna mendalami dan mengamalkan pendekatan masyarakat yang berhasil guna dan berdaya guna.
E. LANGKAH PENGEMBANGAN DAN KEGIATAN MENGEMBANGKAN PSM
- Langkah Pengembangan PSM Umum :
a. penggalangan dukungan penentu kebijaksanaan, pemimpin wilayah, lintas sektor dan berbagai organisasi kesehatan yang dilaksanakan melalui dialog, seminar, lokakarya dalam rangka KIM, dengan memnfaatkan media masa dan sistem informasi kesehatan.
b. Persiapan petugas penyelenggara melalui pelatihan, orientasi atau sarasehan kepemimpinan di bidang kesehatan
c. Persiapan masyarakat melalui rangkaian kegiatan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenal dan memecahkan masalah kesehatan, dengan menggali dan menggerakkan sumber daya yang dimilikinya.
- Kegiatan Mengembangkan PSM Umum :
a. pendekatan kepada tokoh masyarakat
b. survey mawas diri masyarakat untuk mengenali masalah kesehatan (diagnosa masalah kesehatan)
c. musyawarah masyarakat desa untuk penentuan pemecahan masalah kesehatan yang dihadapi (penetapan resep pemecahan masalah oleh masyarakat dan latihan kader)
d. pelaksanaan kegiatan kesehatan oleh dan untuk masyarakat melalui kadernya yang telah terlatih (tindakan terapi oleh masyarakat)
e. pengembangan dan pelestarian kegiatan kesehatan oleh masyarakat
F. KERANGKA TEORI PERAN SERTA MASYARAKAT
- Faktor yang mempengaruhi Peran Serta Masyarakat
a. Perilaku individu
Perilaku individu dipengaruhi oleh berbagai hal seperti : tingkat pengetahuan, sikap mental, tingkat kebutuhan individu, tingkat keterikatan dalam kelompok, tingkat kemampuan sumber daya yang ada.
1) Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi perilaku individu. Makin tinggi pendidikan / pengetahuan kesehatan seseorang, makin tinggi kesadaran untuk berperan serta. Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antar tingkat pendidikan ibu dan kesehatan keluarganya.
Dalam permasalahan kesehatan, sering dijumpai bahwa persepsi masyarakat tidak selalu sama dengan persepsi dengan persepsi pihak provider kesehatan (tenaga kesehatan).
Untuk mencapai kesepakatan atau kesamaan persepsi sehingga tumbuh keyakinan dalam hal masalah kesehatan yang dihadapi diperlukan suatu proses (KIM) yang mantap.
Dalam proses ini diharapkan terjadi perubahan perilaku seseorang, yang tahap-tahapnya adalah :
- pengenalan (awarenes)
- peminatan (interest)
- penilaian (evaluation)
- percobaan (trial)
- penerimaan (adoption)
2) Sikap mental
Sikap mental pada hakekatnya merupakan kondisi kejiwaan, perasaan dan keinginan (mind, feeling and mood) seseorang sehingga hal tersebut berpengaruh pada perilaku serta pada akhinya perbuatan yang diwujudkannya.
Kondisi ini didapatkan dari proses tumbuh kembang individu sejak masa bayi/anak dan berkembang pula dari pendidikan serta pengalaman hidupnya dalam berinteraksi dengan lingkungan/masyarakatnya.
Dengan memahami sikap mental masyarakat (norma), maka para pemberi pelayanan sebagai “Prime Mover” akan dapat membentuk strategi perekayasaan manusia dan sosial..
3) Tingkat kebutuhan individu
Berkaitan dengan sistem kebutuhan yang terdapat dalam diri individu, MASLOW mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat sejumlah kebutuhan dasar yang menggerakkannya untuk berperilaku.
Kelima kebutuhan menurut MASLOW tersebut terikat dalam suatu hirarki tertentu berdasarkan kuat lemahnya MOTIVASI. Motivasi adalah penggerak batin yang mendorong seseorang dari dalam untuk menggunakan tenaga yang ada pada dirinya sebaik mungkin demi tercapainya sasaran.
Implikasi dari uraian diatas adalah bahwa sepanjang perilaku berperan serta yang dikehendaki dapat memenuhi kebutuhan poko anggota masyarakat dan sejalan dengan norma dan nilai yang dianut, maka peran serta tersebut dapat berkembang.
Sebaliknya, perilaku yang lain (baru ataupun berlawanan) tidak akan muncul dengan mudah apabila kebutuhan pokok anggota masyarakat tersebut tidak dipenuhi.
4) Tingkat keterikatan kelompok
Suatu masyarakat terdiri dari individu/keluarga yang hidup bersama, terorganisi dalam suatu sistem sosial atau ikatan. Sesuai dengan kepentingan dan aspirasi anggotanya sistem sosial tersebut dapat berupa organisasi/ikatan : politik, ekonomi, sosbud, agama, profesi, pendidikan, hukum, dll. Organisasi / institusi bentukan dari sistem sosial tersebut bervariasi besarnya dan profil sosial ekonominya, serta tingkatannya, mulai dari paguyuban atau bahkan kelompok terisolir pada tingkat desa, kota dan nasional.
5) Tingkat kemampuan sumber daya
perilaku individu juga diepengaruhi oleh tersedianya sumber daya terutama sarana untuk pemenuhan kebutuhan baik yang dimiliki olehnya maupun yang tersedia dimasyarakat
b. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat dipengaruhi terutama oleh keadaan politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan agama
1) Keadaan dan struktur politik ; sangat penting peranannya dalam mempengaruhi derajat perilaku masyarakat yang selanjutnya akan mewujudkan peran serta masyarakat. Kestabilan dan kesepakatan politik, perangkat-perangkat lunak juga hukum yang ada serta wadah yang jelas merupakan hal penting dalam menunjang perwujudan kearah itu.
2) Keadaan ekonomi ; sangat penting pula pengaruhnya terhadap perwujudan peran serta masyarakat, mengingat kemajuan yang dicapai dibidang ekonomi lebih memungkinkan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dalam berbagai aspek pembangunan
3) Aspek sosial-budaya ; turut menentukan pula pengaruhnya terhadap perwujudan peran serta masyarakat. Dalam berbagai hal masih sering dijumpai situasi dimana tata nilai budaya masyarakat indonesia tertentu belum lagi memungkinkan terwujudnya perilaku hidup sehat, apalagi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan seperti yang diharapkan.
4) Aspek pendidikan ; tingkat pendidikan suatu bangsa akan mempengaruhi perilaku rakyatnya. Makin tinggi pendidikan masyarakat makin tinggi kesadaran kesehatannya.
5) Aspek Agama ; ketentuan atau ajaran-ajaran yang berlaku dalam berbagai agama mempengaruhi perilaku masyarakat. Agama dapat merupakan jembatan ataupun hambatan bagi terwujudnya perilaku positif masyarakat dalam kesehatan.
- Bentuk-Bentuk / Tingkat-Tingkat Dalam Partisipasi Masyarakat (PSM)
Mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat bukan pekerjaan mudah. Partisipasi masyarakat memerlukan kemampuan, kesempatan dan motivasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dapat terjadi dalam berbagai tingkatan, yaitu :
1) Tingkat partisipasi masyarakat karena perintah atau karena paksaan
2) Tingkat partisipasi masyarakat karena imbalan atau karena insentif
3) Tingkat partisipasi masyarakat karena identifikasi atau karena ingin meniru
4) Tingkat partisipasi masyarakat karena kesadaran
5) Tingkat partisipasi masyarakat karena tuntutan akan hak azasi dan tanggung jawab
Tingkat partisipasi masyarakat nomor 5 biasanya muncul di negara-negara maju yang berpaham demokrasi. Sedangkan partisipasi yang muncul di negara-negara sedang berkembang yang pola budayanya umumnya paternalistik, tingkat partisipasi masyarakatnya adalah nomor 1 s/d nomor 4 (terutama nomor 1 s/d 3).
Umumnya orang berpendapat bahwa partisipasi masyarakat erat kaitannya dengan sifat gotong-royong masyarakat yang sudah membudaya, namun itu bukan satu-satunya faktor penentu yang mempengaruhi partisipasi, akan tetapi partisipasi masyarakat itu merupakan hal yang kompleks dan sering sulit diperhitungkan karena terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya.
3. Faktor Pendorong Partisipasi Masyarakat
Dalam upaya mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat ada beberapa faktor yang bisa membantu atau mendorong upaya tersebut, yang antara lain adalah :
a. Faktor pendorong di masyarakat
Konsep partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal yang baru bagi kita di Indonesia. Dari sejak nenek moyang kita, telah dikenal adanya semangat gotong-royong dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di masyarakat. Semangat gotong-royong ini bertolak dari nilai-nilai budaya yang menyangkut hubungan antar manusia. Semangat ini mendorong timbulnya partisipasi masyarakat
b. Faktor pendorong di pihak provider
Faktor pendorong terpenting yang ada di pihak provider adalah adanya kesadaran di lingkungan provider, bahwa perilaku merupakan faktor penting dan besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan. Kesadaran ini melandasi pemikiran pentingnya partisipasi masyarakat. Selain itu keterbatasan sumber daya dipihak provider juga merupakan faktor yang sangat mendorong pihak provider untuk mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat.
4. Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat
a. Faktor penghambat yang terdapat di masyarakat
1) persepsi masyarakat yang sangat berbeda dengan persepsi provider tentang masalah kesehatan yang dihadapi
2) susunan masyarakat yang sangat heterogen dengan kondisi sosial budaya yang sangat berbeda-beda pula
3) pengalaman pahit masyarakat tentang program sebelumnya
4) adanya kepentingan tetap (vested interest) dari beberapa pihak dimasyarakat
5) sistim pengambilan keputusan dari atas kebawah
6) adanya berbagai macam kesenjangan sosial
7) kemiskinan
b. Faktor penghambat yang terdapat di pihak provider
1) terlalu mengejar target sehingga terjerumus dalam pendekatan yang tidak partisipatif
2) pelaporan yang tidak obyektif (ABS) hingga provider keliru mentafsirkan situasi
3) birokrasi yang sering memperlambat kecepatan dan ketepatan respons pihak provider terhadap perkembangan masyarakat
4) persepsi yang berbeda antara provider dan masyarakat
5. Keuntungan Partisipasi Masyarakat
a. Bagi masyarakat
Dengan berpartisipasinya masyarakat dibidang kesehatan maka :
1) Upaya kesehatan yang dilaksanakan benar-benar sesuai dengan masalah yang dihadapi masyarakat, tidak hanya bertolak dari asumsi para penyelenggara semata.
2) Upaya kesehatan bisa diterima dan terjangkau oleh masyarakat, baik secara fisik, sosial maupun secara ekonomis. Ini karena mesyarakat berpartisipasi dalam merumuskan masalahnya dan dalam merencanakan pemecahannya
3) Masyarakat merasa puas, karena mempunyai andil pula dalam menilai pelaksanaan daripada upaya kesehatan yang sudah direncanakan dan dilaksanakan bersama.
4) Dengan berpartisipasinya masyarakat dalam proses pemecahan masalah dibidang kesehatan akan mengembangkan kemampuan dan sikap positif serta motivasi mereka untuk hidup sehat atas dasar swadaya.
b. Bagi pihak penyelenggara pelayanan (provider)
1) dengan adanya partisipasi masyarakat, berarti adanya penemuan dan pengerahan potensi masyarakat untuk pembangunan di bidang kesehatan, dan membantu memecahkan masalah keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah, baik sumber daya tenaga, biaya, maupun fasilitas.
2) Partisipasi masyarakat membantu upaya perluasan jangkauan pelayanan kesehatan
3) Partisipasi masyarakat menciptakan adanya rasa ikut memiliki dan rasa ikut bertanggungjawab dipihak masyarakat terhadap masalah dan program kesehatan, hingga hal ini memperlancar munculnya aspirasi-aspirasi dari bawah.
4) Partisipasi masyarakat dapat pula merupakan wadah dan jalur untuk kontrol terhadap pelayanan kesehatan yang dilaksanakan pemerintah
5) Partisipasi masyarakat dibidang kesehatan dapat menjadi pintu masuk (entry point) bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan di bidang lain
6) Partisipasi masyarakat merupakan mekanisme berkembangnya dialog antara masyarakat dan pihak penyelenggaraan pelayanan (provider) dan antara masyarakat denganmasyarakat sendiri, hingga tercipta kesamaan berbagai pengertian dan pandangan tentang masalah dan cara pendekatannya.
