Tingginya tingkat kesakitan atau bahkan kematian balita sangat tergantung dari perhatian dan perawatan yang diberikan oleh kelompok penduduk dewasa dalam hal ini orang tua. Ini dikarenakan kesakitan balita lebih banyak disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi akibat pencemaran lingkungan karena perilaku orang dewasa termasuk didalamnya adalah para orang tua.
Ada beberapa hal yang memepngaruhi perhatian orang tua terhadap anak-anak khususnya balita, antara lain faktor sosio-demografi seperti tingkat pendidikan ibu, usia ibu saat melahirkan, jarak antar kelahiran, urutan kelahiran, serta faktor perilaku pra dan pasca persalinan yang berhubungan dengan kondisi biologis dari balita tersebut sebelum dan sesudah kelahirannya.
Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadinya kelahiran berikutnya. Selama ini jarak kelahiran yang terlalu dekat selalu dikaitkan dengan kesehatan ibu semata, yaitu dapat menyebabkan terjadinya anemia. Hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat – zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandung. Bagaimana dengan dampak jarak kelahiran terlalu dekat terhadap kesehatan dan tumbuh kembang balita? Masalah ini sering terlupakan dari benak kita.
Jarak kelahiran yang terlalu dekat, berarti terdapat beberapa balita yang diasuh secara bersama-sama. Bagaimana orang tua bisa memberi perhatian penuh terhadap dua atau lebih balita dalam satu saat? Bagi sebagian orang yang berada, memenuhi kecukupan pangan balita mungkin bukan suatu masalah. Tetapi masalah gizi dan kesehatan balita pada umumnya tidak sebatas bagaimana orang tua menyediakan kebutuhan makanan saja. Anak balita, bukan semata-mata makhluk hidup yang akan makan jika disediakan makanan, tetapi mereka juga memiliki kebutuhan psikologis tertentu berupa perhatian dari orang tua. Sekalipun anak disediakan makanan yang enak dan disuruh atau bahkan dipaksa makan, mereka belum tentu mau makan, bahkan banyka anak yang sering tidak mau makan hanya sekedar untuk mendapat perhatian lebih dari orang tuanya. Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada solusi penyelesaian, maka bukan tidak mungkin anak akan mengalami masalah gizi yang serius.
Faktor pendidikan ibu sebagai proxy dari status sosial merupakan faktor pengaruh yang kuat terhadap kesehatan balita. Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan luar sekolah seumur hidup sehingga makin matang dalam menghadapi dan memecahkan berbagai problem termasuk problem kesehatan dalam rangka menekan risiko kematian. Pendidikan ibu sangan erat kaitannya dengan reaksi serta pembuatan keputusan rumah tangga terhadap penyakit. Ini terlihat bahwa kesakitan/kematian balita yang rendah dijumpai pada golongan wanita yang mempunyai pendidikan yang tinggi. Menurut Budi Utomo (1984), tinggi rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengertian terhadap perawatan kesehatan, higiene, perlunya pemeriksaan kehamilan.
Jumlah Anak Ideal
Jumlah anak yang ideal bagi suatu keluarga sangat bergantung pada emosional social dan ekonomi dari keluarga. Dengan mempertimbangkan kondisi biaya-biaya mengurus anak di Indonesia yang makin mahal, seperti biaya sekolah, mengurus bayi, biaya kesehatan anak di Indonesia juga tidak ditanggung pemerintah, kesibukan kerja para orang tua, maka 1 anak sudah cukup. Paling tidak anak bisa dididik dengan kualitas yang bagus. Artinya, dengan 1 anak perhatian orang tua bisa focus. Bisa dibayangkan jika ada anak 1 lagi, sementara anak pertama masih berusia 2-3 tahun yang masih perlu perhatian ekstra, sementara orang tua super sibuk, biaya-biaya yang melambung tinggi, pasti kehidupan keluarga semakin rumit. Bila orang tua menyerahkan tugas pengasuhan anak kepada seorang suster, kakak asuh ataupun pembantu, itu bukanlah hal yang baik bagi perkembangan anak-anak.
Terlalu banyak anak kurang baik bagi tumbuh kembang anak itu sendiri. Apalagi jika anak sudah mulai menginjak remaja, dalam proses pencarian identitas diri mereka butuh ketenangan dan privasi. Jika rumah sangat sempit dan anak remaja harus tinggal sekamar dengan adiknya yang masih 2-10 thn, yang sedang ramai dan nakal-nakalnya, maka si kakak remaja akan menjadi terganggu dan stress. Orang tua pun juga demikian, saat mereka akan berkencan (memadu kasih) harus terganggu oleh keramaian dan kenakalan anak-anak.
Pada umumnya, untuk ukurang orang Indonesia, jumlah ideal adalah 2 anak. Memiliki satu anak sepertinya masih kurang, apalagi tidak memiliki sama sekali. Memiliki 3 anak rasanya sudah terlalu ramai, apalagi dengan rumah yang sempit, ukuran kurang dari 60m2 jika jumlah anak lebih dari 3, rumah akan tampak ramai seperti minimarket.
Tetapi pada prinsipnya jumlah anak yg ideal itu sesuai dengan kemampuan kita memelihara, merawat, mendidik dari masa dalam kandungan sampai anak kita mandiri dengan mencukupi segala kebutuhan jasmani & rohani.








Jangan lewatkan peluang dari wordpress klik:
http://www.imcrew.com/?r=359671
sign up simak referensinya dan dapatkan bonus. Enjoy
no scam,no spam,no trash.